Sabtu, 18 Januari 2014

Sebuah Catatan Seorang Teman



 Rahasia
Kuberi tahu satu rahasia padamu, Kawan
Buah paling manis dari berani bermimpi
Adalah kejadian-kejadian menakjubkan
Dalam perjalanan menggapainya
-Andrea Hirata-


15 November 2012
Langit didekap gelap saat kami menginjak bumi Purbalingga. Tak lama setelah menurunkan barang, seruan shalat mengalun dengan indahnya, mendesak kami untuk bertumakninah dalam kekhusyukan ibadah pada Sang Pencipta. Mengingat hari yang semakin gelap dan mendung yang menggantung di horizon, kontingen dari SMPIT Nur Hidayah pun dengan segera mendirikan tenda.
Malam itu sarat akan kesibukan. Beberapa dari kami sibuk menegakkan tenda, sementara yang lain membuat gapura, dan beberapa yang lain lagi menata perlengkapan. Setelah berlama-lama berjibaku di depan rutinitas, akhirnya kami dapat merebahkan tubuh kami di atas matras beralaskan tikar yang beberapa hari ke depan akan menjadi tempat peristirahatan yang nyaman untuk kami.


Sorotan cahaya bulan masuk ke dalam tenda dari celah dedaunan pohon yang telah tumbuh tinggi dan makin rindang. Temani pulasnya tidur kami, yang mungkin tidak akan sepulas malam-malam selanjutnya. Malam-malam yang mungkin akan lebih melelahkan dibanding malam ini.
Malam ini. Ya, malam ini. Mungkin akan menjadi malam pertama dan terakhir Sangrila beserta Kak Suci dan Kak Anjar berada dalam satu tenda. Boleh jadi ini yang pertama, namun aku berharap, ini bukanlah yang terakhir. Semoga.
Dini hari kelam, bulan pucat. Kami mulai terjaga. Bersiap dengan handuk dan gayung di tangan. Rasa kantuk terkalahkan oleh dingin yang menusuk tulang. Mau tidak mau, di kala orang lain masih tertidur pulas, kami harus merelakan kulit kami bersentuhan dengan dinginnya permukaan air. Kupikir, di sinilah perjuangan kami dimulai!

16 November 2012
Mentari masih malu-malu menampakkan sinarnya, ketika kami melakukan shalat fajar dan Subuh berjamaah, yang kemudian dilanjutkan dengan membaca Al Ma’tsurat. Selepas melaksanakan ibadah pagi, sarapan pun menanti. Saatnya mengisi perut sebagai bekal perjuangan kami di hari pertama. Jadwal pertama pagi ini adalah senam bersama seluruh peserta lomba yang dilaksanakan di tempat yang cukup jauh dari tenda kami yang berada di kavling 12 dan terletak di ujung lokasi perkemahan. Dimulai dari peregangan hingga pendinginan. Semuanya berjalan dengan lancar.
perjalanan menuju lapangan upacara
Agenda yang kedua adalah upacara pembukaan yang wajib diikuti oleh sepuluh orang dari setiap kontingen. Sementara anggota Sangrila yang lain menuju tempat upacara, Ulya dan Qori harus merelakan dirinya berjaga di tenda. Tempat upacara yang terletak begitu jauh dengan bumi perkemahan membuat kami sedikit letih. Ditambah mentari yang menggantung tepat di atas ubun-ubun, membuat peluh sebesar biji jagung tak henti-hentinya mengaliri wajah kami. Setibanya di tempat upacara, kami sempat dikejutkan oleh cuaca yang amat ekstrem; sinar matahari yang terasa membakar kulit; namun sebagai bentuk profesionalitas, kami harus tetap mengikuti jalannya upacara dari awal hingga akhir. Di tengah khidmatnya upacara, beberapa dari kami mengeluh kehausan. Namun, dari sekian banyak anggota Sangrila yang ada, tak satu pun yang membawa sepeser uang. Dengan berat hati, terpaksa Hasna meminjam sedikit uang pada Adam untuk membeli minuman di supermarket seberang jalan. Beruntung sebelum sempat membeli minuman, kami bertemu Pak Didik yang kebetulan saat itu membeli berbotol-botol minuman untuk kami. Bayangan kehausan seketika sirna saat Pak Didik dengan wajah sumringah menjinjing sebuah tas plastik yang berisi penuh dengan softdrink. Seketika kami berebutan untuk membasahi kerongkongan kami dengan benda itu dan sejenak membuat kami melupakan uang yang telah kami pinjam dari Adam.
Upacara terasa sangat singkat. Mungkin ini adalah salah satu dampak minum secara berlebihan. Membuat kami sejenak melupakan waktu dan terus berkonsentrasi hingga jalannya upacara selesai. Segera setelah itu, kami membuat sebuah pola lingkaran yang terdiri atas kontingen SMAIT dan SMPIT Nur Hidayah. Selayaknya kegiatan pramuka biasa, kami menyanyikan beberapa mars(?) dan yel-yel sekolah kami. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba sekelompok orang berbaju coklat dan beratribut hitam nyentrik menerobos lingkaran kami dan menyanyikan yel-yel mereka dengan lantang, yang kalau dipikir, suara mereka tak jauh lebih bagus dari kami. Sempat terganggu. Namun, aktivitas kami terus berlanjut. Selepas upacara yang begitu menguras emosi dan tenaga(?), akhirnya kami diperbolehkan kembali ke tenda untuk menyiapkan segala sesuatu yang mungkin diperlukan untuk lomba nanti sore. Mentari sedikit demi sedikit tergelincir ke ufuk barat. Siang menjelang sore pada hari ini adalah awal perjuangan kami. Pioneering, semaphore, dan tahfidz akan diadakan pada waktu yang serentak. Semoga semuanya lancar, hanya itu yang bisa kuharapkan. Meskipun belum bisa meraih kampiun, mereka bekerja dengan baik. Dan, inilah hasil yang pantas mereka dapatkan dari kerja keras mereka selama ini ^^
"Asbak" (Sangrila)
"Celengan Merak" (Serdabrida)
Malamnya, digelarlah lomba hasta karya. Hasta karya kali ini berbahan baku batok kelapa. Mungkin persiapan yang kurang matang dan tubuh yang sedikit letih, membuat hasilnya kurang maksimal. Sangrila membuat sebuah karya yang diberi nama “Asbak”, walaupun dari penampakannya sangat tidak mencerminkan asbak. Mereka hanya mengampelas batok kelapa kemudian menggabungnya dengan tali. Memang begitu sederhana kelihatannya(?) namun hasilnya tampak luar biasa ^^ Berbeda dengan Serdabrida, persiapan mereka tampak begitu matang. Terlihat dari “Celengan Merak”-nya yang terlihat unik dan indah untuk dilihat. Mereka sudah bekerja keras, aku harap, mereka mendapatkan hasil yang maksimal. Semoga.


“Jika jarak antara realitas dan mimpi jauh panggang dari api maka turunkan panggangannya mendekati api atau kipas apinya hingga panasnya menjalar naik menuju panggangan.”
-Raliesta-

17 November 2012
Hari ini mungkin akan menjadi hari yang paling melelahkan. Dimulai dari scout adventure. Dalam rangkaian scout adventure, pertama-tama kami harus melalui pos “KIM Mengingat” di mana di pos itu, kami harus bisa menyebutkan benda-benda dalam kardus yang hanya bisa kami lihat selama 20 detik. Setelah itu, kami lanjutkan perjalanan ke pos kedua; “Menaksir Tinggi”; di sini kami harus menaksir tinggi dari sebuah pohon dengan rumus-rumus yang telah kami hafalkan sebelumnya. Di pos ketiga, kami harus membaca sandi-sandi rumput yang telah disiapkan panitia. Selanjutnya, berdasarkan pengarahan dari panitia di pos ketiga, kami harus menemukan berbagai tanaman herbarium yang tersebar di sepanjang jalan. Kami harus mengambil sampel dari tanaman itu, untuk ditempelkan di sebuah kertas dan ditulis kegunaannya. Perjalanan masih berlanjut. Kami sampai di pos terakhir, Pengetahuan Umum. Setelah konsentrasi terpecah-pecah, akibat keempat pos sebelumnya, di sini kami harus mengerahkan seluruh pengetahuan kami untuk dicurahkan pada pos ini. Kami mengerjakan seluruh soal dengan tenang dan lancar.
Sore harinya, adalah puncak dari seluruh perlombaan dalam perkemahan ini, PBB. Setelah mendapat antrian, kami menunggu giliran tampil. Serdabrida tampil begitu baik, membuat banyak orang berdecak kagum. Begitu pula Sangrila. Alhamdulillah, lomba terakhir berjalan dengan lancar tanpa halangan sedikit pun. Meskipun suasana haru sempat menyelimuti kami selepas perlombaan ini~
Beberapa saat kemudian, entah siapa yang mempeloporinya, kami membentuk pola lingkaran bersama kontingen SDIT Nur Hidayah, SMAIT Nur Hidayah, Abu Bakar Yogyakarta, dan Baitussalam. Bersama-sama kami menyanyikan yel-yel masing-masing. Untuk yang pertama kalinya, setelah beberapa lama tidak saling menyambung tali silaturahmi, kami disatukan dalam sebuah kegiatan perkemahan. Kami hanya bisa berharap, semoga persaudaraan ini kan selalu terjalin dan tak ada lagi tabir yang menghalangi persahabatan kita ^^
Akhirnya, saatnya beristirahat sejenak melepas penat seharian. Sesampainya di tenda, kami dikejutkan oleh tenda yang roboh. Beberapa dari kami memanggil Serdabrida untuk membetulkan tenda kami yang roboh, mungkin terkena hembusan angin (waktu itu Sangrila belum menguasai teknik mendirikan tenda dengan baik dan benar :D). Guntur, Ammar, dan Affan yang saat itu akan berangkat mandi, terpaksa kami ganggu kegiatannya. Akhirnya mereka bertiga lah yang membetulkan tenda kami ^^ Setelah tenda dirasa cukup kuat berdiri, mereka meninggalkan kami untuk melanjutkan aktivitas mereka yang sebelumnya sempat tertunda.
Bulan dan bintang menggantung di kaki langit, memberi cahaya di tiap sudut kegelapan. Malam yang begitu dingin, tak sedikit pun mengusik tidur kami. Tidur kami pada malam terakhir di Purbalingga. Esok kami telah kembali, di kamar tidur masing-masing. Di balik hangatnya selimut dan ranjang yang empuk. Namun, ini akan menjadi pengalaman tak terlupakan; tidur beratapkan langit dan beralaskan tanah yang dingin.


Persahabatan kita selalu menjadi jenis persahabatan yang membebaskan kita,
membicarakan dan saling memberitahu apapun.
Kita selalu mengumpulkan perasaan dan pikiran kita, dan menaruhnya di ambang pintu masing-masing.
Sebagai sahabat, kita memiliki sejuta kenangan bersama.
Beberapa di antaranya menyedihkan dan banyak yang menggembirakan.
Kita telah membuka tempat-tempat istimewa dalam hati, di mana yang boleh datang hanya sahabat terbaik
Kita telah melalui suka dan duka bersama.
Kita telah melakukan yang terbaik untuk membawa harapan bagi satu sama lain, ketika sepertinya semua harapan telah sirna.
Kita telah saling menyemangati sampai secercah senyum kecil mulai lahir.
Kita selalu saling terbuka dan jujur dengan satu sama lain.
Kita punya jenis persahabatan yang tidak pernah ditemukan oleh sebagian orang.

Inilah yang aku coba katakan:
Selama kau memiliki aku dan aku memilikimu sebagai sahabat, 
hidup tidak akan pernah terasa sepi membosankan.
 Persahabatan kita sangat berarti bagiku.

Hanya Ajal yg Mampu Memisahkan Kami

18 November 2012
Pada hari terakhir di Purbalingga, kami menyempatkan diri mengunjungi Sanggaluri Park yang letaknya tak begitu jauh dari lokasi perkemahan. Di sana, kami banyak melihat berbagai jenis reptil. Mulai dari yang jinak sehingga dapat dipegang, hingga yang buas dan terkurung dalam sangkar kaca(?). Selain itu, kami sempat memasuki Museum Wayang dan Artefak serta Museum Uang yang berada di dalam kawasan Sanggaluri tersebut. Setelah puas berputar-putar, kami segera kembali ke bumi perkemahan untuk mengemasi barang-barang dan mengikuti upacara penutupan.
Upacara penutupan berlangsung dengan khidmat. Hingga waktu pengumuman pun tiba. Kali ini kami tak menargetkan diri untuk menang mengingat persiapan yang cukup singkat, namun optimis tetap tak boleh hilang dari diri kami. Perjuangan berbuah keberhasilan. Alhamdulillah, dengan izin Allah, kami memperoleh beberapa penghargaan(?), yaitu: Juara II PBB Putra, Juara III Hasta Karya Putra, Juara I KIM Putri, Juara III Hasta Karya Putri , dan Juara III Pengetahuan Umum Putri.
Bagaimana pun hasilnya, kami tetap harus bersyukur. Syukur, sebuah kesempatan yang mungkin sering terlewat dalam kehidupan meski ternyata mendatangkan efek yang lebih besar dari sekadar terima kasih. Inilah buah dari perjuangan kami selama dua minggu. Dua minggu yang penuh dengan peluh. Dua minggu penuh air mata(?). Dua minggu penuh pengorbanan. Dua minggu penuh kenangan. Dua minggu kebersamaan, dengan hujan dan panas sebagai teman setia. Dua minggu yang berharga. Dua minggu yang tak akan mungkin terulang untuk kedua kalinya. Dua minggu yang membuat kami mengerti, betapa seseorang harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Dua minggu yang takkan kami lupakan.


“Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun semua elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna.   
Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun yang terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan.”
 -Harun Yahya- (Dikutip dari Edensor; Andrea Hirata)



Beberapa jam berlalu semenjak kami meninggalkan Purbalingga. Hujan rupanya bertambah deras. Ya, semenjak kami memasuki bus, memang hujan sudah mulai mengguyur. Dan ini yang patut kami syukuri. Allah melindungi kami dari hujan itu, hujan yang mungkin bisa membuat kami sakit atau kemungkinan buruk lainnya yang mungkin terjadi(?).
Bus kami menepi. Rupanya ke sebuah rumah makan, Numani namanya. Aku tidak tahu, tapi kedengarannya begitu asing di telingaku. Atau, bahkan mungkin nama yang terdengar aneh(?) Benar dugaanku. Rumah makan ini benar-benar aneh. Di rumah makan lain, aku mencium bau lezat masakan tapi mengapa di sini hanya tercium bau amis? Ditambah air di kamar mandinya, berwarna kuning. Bagaimana bisa? Aku sendiri tidak tahu. Setelah sebelumnya shalat, kami memasuki rumah makan “aneh” itu. Awalnya biasa saja, tapi setelah makan, kenapa lagi-lagi muncul hal aneh? Diawali dengan rasa masakannya yang begitu hambar, kemudian tingkah pelayannya yang janggal. Semuanya pria tapi mengapa bertingkah seperti wanita? Begitu risih melihat mereka duduk di antara kami. Cepat-cepat kami menghabiskan makanan di piring, agar cepat pergi dari tempat ini.

Benar-benar pengalaman di rumah makan “aneh” yang takkan terlupakan.
-FIN-


Sebuah Cerita...
Bermula dari perintah seseorang untuk mengabadikan moment kemwil dalam sebuah cerita, akhirnya dengan mata yang sayu(?) karena kurang tidur... dan otak yang mentok(?) karena menyusun kata-kata, dengan izin Allah akhirnya kisah ini sampai pada endingnya juga. Maaf jika dalam penyusunan karya ini banyak kata-kata yang kurang berkenan atau banyak moment yang terlewat ^^ karena sungguh aku benar-benar bingung merajut kata demi kata agar terasa nyaman dibaca._. Apalagi di tengah tugas dan ulangan yang menumpuk, aku dibuat bingung membagi waktu. Jadi kukorbankan waktu luang berhargaku, untuk menyelesaikan karya buruk ini. Sebenarnya, aku bisa saja berkata “tidak” atas perintah penulisan karya ini, namun sungguh aku adalah orang yang sulit berkata “tidak”(?)        
Intinya, dengan segala kerendahan hati, aku memohon maaf atas segala kesalahan dalam penulisan karya ini. Baik dalam segi sudut pandang, kata-kata, untaian kalimat, bahasa yang ribet, atau apapun... Aku juga menerima kritik dan saran yang membangun demi perbaikan naskah-naskahku(?) berikutnya
Sekian.
-Sebait nama-


Eka Wahyuningtyas








1 komentar: